“Nrimo ing Pandum” tak Semudah Kedengarannya

Kalimat yang mungkin tak asing bagi orang jawa pada umumnya. Khususnya bagi orang jawa yang memegang erat budaya ketimurannya. Kalimat yang tersusun dari 3 kata tersebut begitu mudah kita ucapkan, kita dengar dan kita tulis. Namun tak cukup 3 langkah saja untuk dapat kita terapkan dalam kehidupan.

Nrimo ing Pandum” memiliki arti “menerima dengan pemberian” dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup. Pengaplikasian dalam kehidupan sosial “nrimo ing pandum” bisa berarti bermurah hati dengan sesama, dalam ekonomi dapat pula dikatakan sebagai rasa cukup dengan kekayaan yang dimiliki, dan masih bisa lebih luas lagi “nrimo ing pandum” dapat diaplikasikan.

Nrimo yang berarti menerima dengan segala sesuatu pemberian baik dari sesama manusia ataupun dari Yang Maha Kuasa, baik berupa hal baik maupun hal buruk, bahkan kurang ataupun lebih. Bagi sesepuh jaman dulu mungkin seperti kakek/nenek kita atau buyut-buyut kita “nrimo ing pandum” digunakan sebagai notice dalam menjalani ujian kehidupan. Mungkin banyak dari kita berpikir bahwa ujian hidup itu hal yang menyedihkan, menyusahkan, bikin bete kata anak muda jaman sekarang. Perlu kita ingat bahwa ujian bisa saja berupa kelebihan yang kita miliki. Kelebihan yang kita miliki atau kita terima tersebut dalam kajian nrimo memesankan kepada kita agar selalu bersyukur dan berendah hati dengan apa yang sudah kita miliki. Sebaliknya dalam kekurangan yang kita hadapi nrimo mengajarkan kita agar selalu bersabar dan tabah dalam kekurangan maupun kesulitan yang ada.

Apakah itu masih mudah seperti yang kita dengar???

Pelajaran bagi kita yang masih berharap memiliki hidup lebih baik lagi. Nrimo ing pandum mengajarkan kita “Ojo Dumeh” (akan dibahas nanti di pertemuan lain waktu) yang berarti “jangan mentang-mentang”.

“Ojo dumeh sugih lali mlarat e”

“Ojo dumeh sehat lali lara ne”

“Ojo dumeh enom lali tuo ne”

“Ojo dumeh seneng lali susah e”

Ojo dumeh urip lali mati ne”

Dari 1 kalimat sederhana memunculkan 5 kalimat berikutnya yang mungkin lebih akrab disebut “5 sebelum 5”. Marilah terus belajar, terus mawas diri, dan saling mengingatkan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi, belajar dari semua yang kita hadapi, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat…

Jangan lupa ingatkan saya jika ada salah kata yang tertulis.

Terima Kasih sudah mau belajar bersama dengan saya.