Posting Pertama

Terinspirasi dari dunia balap yang penuh tantangan.

knjrnsr9a

Banyak orang tua kita berkata “hidup itu di jalani dengan hati-hati agar mencapai hasil terbaik” dan sebagian orang berkata “hati-hati kalau jalan, pelan-pelan saja biar selamat sampai tujuan”. Mungkin banyak orang tua menyadari akan hal itu karena mereka yang sudah mengenyam kehidupan lebih dahulu dibanding kita yang masih ingusan. Patutlah kita bercermin diri dengan kata-kata yang teruntai dari bibir seseorang yang lebih tua dari usia kita yang tentunya dalam hal positif.
Namun bukan bermaksud menggurui atau malah sok tua, sekedar penilaian yang berbeda saja tentang wejangan dari kebanyakan orang tua dan berbagi pengalaman hidup saya pribadi siapa tahu bisa bermanfaat, amiiiin. Saya memiliki pendapat bahwa “hidup itu seperti dunia balap, lebih cepat lebih baik” dan bersambung dengan “namun kita masih perlu untuk berhati-hati dalam melakoni balap itu”. Mungkin ini efek dari hobby saya yang doyan dengan dunia balap. Maklum anak muda yang masih suka dengan hura-hura yang terkadang sama sekali gak berguna untuk masa depan kita masing-masing hehehehe.
Yang namanya balap pasti diawali dengan kualifikasi untuk mendapat tempat start atau memulai balapan di tempat yang terdepan (terbaik) dengan begitu kita lebih mudah melakoni balap, begitu pula dengan kehidupan kita yang berkaitan dengan masa muda kita. Bagaimana kalau kita tidak mempersiapkan kualifikasi (masa muda) dengan baik??. Tentu saja kita akan kita lebih susah untuk melakoni balap (masa tua atau bisa dikatakan kehidupan yang lebih serius) yang berjalan sekian kali putaran. Berlanjut pada mulainya balap hingga finish (mati) dengan begitu banyak pesaing dan kendala-kendala yang akan kita hadapi tak lupa juga berbagai macam tikungan (cobaan atau ujian hidup) yang akan kita libas.
Saya start pada posisi yang kurang bisa menguntungkan bagi saya, itupun bukan karena kesalahan settingan motor (latar belakang keluarga) ataupun yang lain-lain namun disebabkan saya melakoni kualifikasi kurang baik dengan berulang kali kesalahan yang saya lakukan. Hingga saatnya saya harus tetap melakoni balap untuk bersaing mendapat tempat terbaik di garis akhir. Begitu start saya berpikir untuk geber lebih cepat untuk dapat melewati sekian banyak pesaing di depan saya tentu dengan harapan finisih terbaik. Belum berjalan jauh saya sudah harus dihadapkan dengan tikungan tajam (masalah) atau yang biasanya dikenal dengan hair pin corner. Saya pun harus berhati-hati melaluinya agar tikungan (masalah) tersebut bisa saya lalui dengan baik tanpa saya harus terjatuh atau malah dimanfaatkan pesaing (orang lain) untuk mendahului saya. Keluar dari tikungan terhampar panjang jalan lurus yang membuat saya mampu memperbaiki posisi (dalam kehidupan) tanpa halangan,tanpa rintangan,dan mulus-mulus saja. Terbuai dengan kenikmatan trek lurus saya pun lengah. Beberapa pesaing kembali mendahului dan mengambil alih posisi saya. Rasa frustai dan emosi pun meluap hingga kembali tikungan saya hadapi membuat saya ceroboh untuk melaluinya. Hampir saja terjatuh dan tidak akan mendapatkan hasil apa-apa saat itu. Beruntung karena support motor (keluarga), mekanik (teman),dan pit crew (saudara) yang maksimal membuat saya terus dan terus memacu hingga nantinya saya dapatkan posisi terbaik di garis finish.
Seperti itulah kehidupan dalam pandangan saya. Kualifikasi, motor, mekanik, dan pit crew sangat berpengaruh dalam kita memacu kehidupan (faktor intern). Faktor ekstern pun seperti tikungan tajam, trek lurus, kompetitor, dan cuaca (lingkungan) yang juga bisa menjatuhkan kita kapan pun jika kita ceroboh atau lengah melaluinya. Kita masih muda perlu mempersiapkan diri (kualifikasi) dengan baik agar dapat memulai kehidupan yang sebenarnya (start balap) dengan mudah pula. Hingga saat kita menjalani kehidupan (balap) dengan mudah pula. Dengan begitu saat tikungan (masalah) datang, kita siap dan mampu melaluinya dengan mudah. Dan pada putaran akhir (masa tua) kita tinggal menikmatinya dan jauh lebih mudah lagi hingga finish (mati) di podium utama (surga).

Thank’s to:
Allah SWT, bapak (Budiono), bunda (Windarti), mb. Gati, ms. Galih, “cewek gue” (mbuh sopo), Alm. Harris Noviar, Alm. Risma, Alm. Cipoet, semua saudara dan teman-teman.
Dari saya terima kasih buat yang mau baca moga bisa jadi masukan yang baik. Buat yang gak baca moga ada yang mau ceritain. Hehehhe. Bila ada kata yang kurang tepat atau ada kesalahan mohon diingatkan dan dimaafkan.
Salam “Uyee…!”