Keluarga, Durian, dan Teman

Pagi itu hari kamis tepat jam 7 pagi aku terbangun dari lelapku. Tas carrier besar yang sudah siap-siap dari semalem menunggu untuk numpang di punggung kecilku. Iya ini adalah hari pertama aku pulang ke kota kelahiran untuk bernostalgia semenjak aku bekerja di Penabulu Alliance. Bersama teman senior sekaligus tutor di kantor siap menuju ke stasiun untuk berangkat menuju kampung halaman masing-masing.

Tiba di stasiun tak lama kereta melaju dengan gagahnya di atas rel panas tersengat matahari terik ibu kota. Otak mulai mengajak berdiskusi dengan hati untuk bersiap bertemu dengan keluarga. Bersiap seperti apa?bercerita tentang apa?apakah usaha untuk memperbaiki diri sudah terlihat?. Apapun nanti aku hanya ingin bertemu dengan orang tuaku untuk memeluk erat tubuhnya yang mulai renta. Waktu berlalu aku pun tiba di kota Malang tengah malam, berlanjut sopir taksi yang mengantar menuju rumah yang ramah dengan sambutan peluk hangat dari kedua orang tua. Sungkem aku haturkan kepada kedua orang tua yang sudah mulai renta dan fisiknya mulai melemah itu. Semoga dengan kedatanganku bisa jadi dopping kecil untuk lemahnya fisik mereka yang harus tinggal berdua saja di rumah.

Hari pertama, sesampai di rumah dini hari jum’at hanya terhabiskan untuk revitalisasi tubuh yang tercecer oleh goyangan kereta. Mendekati waktu sholat jum’at aku bangun dan bergegas untuk beribadah. Sesudah sholat jum’at aku berlanjut untuk menyelesaikan kewajiban dari kantor, selanjutnya berkumbul dengan kawan lama untuk saling sharing dengan mereka. Mengingat dulu ketika aku masih kuliah dan mengerjakan skripsi aku pun mengajak mereka untuk sharing tentang skripsi mereka sejauh mana sudah berjalan. Setidaknya kopi tidak jadi hal yang membuang waktu yang singkat di Malang untuk hal yang percuma saja.

Hari kedua, bapak bercerita tentang masa kecilku di desa yang akhirnya memunculkan ide untuk mengunjungi desa tempatku kecil dulu dan sedikit membeli durian khas di daerah tersebut untuk bernostalgia jaman dahulu masih tinggal di desa ini.  Desa Ngantang tepatnya di daearah sekitar bendungan air Selorejo Kabupaten Malang ini adalah desa dimana aku tumbuh hingga usia 6 tahun dengan sedikit cerita namun desa ini begitu asik untuk dikunjungi. Bersama Bapak, Bunda, si kecil Satrio, dan teman hidup saat ini Caca berjalan-jalan ke tetangga yang dulu kita hidup bersama. Durian pun kita dapat dengan merogoh kocek sangat minim dengan harga full diskon hehe. Aroma durian semerbak melingkupi di dalam mobil.

2015-04-11Perjalanan begitu enjoy kita jalani, penuh dengan rasa cinta dalam keluarga. Perjalanan pulang kami lalui dengan penuh kebahagian dengan berkumpulnya keluarga. Hujan tak lagi membuat kami risau diperjalanan. Sesampai di rumah durian dibelah bapak untuk disantap bersama seusai makan malam bersama. Suasana yang begitu aku rindukan dengan keluarga ini, dengan rasa durian penambah nikmatnya suasana, dan rasa penuh kasih sayang dalam keluarga. Begitu singkat, namun semua ini masih menyisakan senyum lebar ketika aku sudah harus bersiap kembali ke Jakarta dan kembali kehabitat kantor.

20150412_210112Hari ketiga, tersinya untuk bersiap keesokan hari untuk kembali ke Jakarta. Tersisa sedikit waktu aku gunakan untuk berkumpul kembali dengan kopi dan teman-teman gilaku itu. Canda tawa terus mengisi acara ngopi bersama kali ini. Tiada hentinya hingga waktu berlalu hingga tegah malam dan aku pun beranjak pulang ditemani Caca karena pagi harinya dia yang mengantar aku ke kandang kereta api.

Hari keempat, bangun dari tidur lelap, bersiap dengan tas carrier yang lagi-lagi menunggu punggung kecilku untuk menjadi tempat naungan. Sesampai di stasiun berpisah lagi dengan keluarga, durian, dan teman Jakarta menunggu dengan Monasnya.

Pulang kampung yang singkat, pulang kampung yang begitu indah untuk dikenang, pulang kampung yang membawa semangatku untuk kembali berkerja penuh dedikasi. Keluarga yang begitu berharga, meski hanya sejenak namun itu sangat berharga untuk bisa berkumpul. Cerita ini pun aku akhiri (udah gak ada ide). *LOL*

Thanks To: Allah SWT, Keluargaku (Bapak, Bunda, Mbak Gati, Mas Zul, Satrio, Caca), keluarga kecilku (Cece, Poreng, Paidi, Bijja), Teman-teman gila (Ayu, Dita, Catur), dan semua kolega yang lain.