Bunga Setengah Layu

Sudut taman kecil tempatmu tumbuh, beraroma wangi semerbak dan warnamu yang begitu indah. Mendekatimu dari jalan setapak tidaklah sulit dan melihat mekarmu semua orang tersenyum. Namun kau bunga yang cukup membuat penasaran otak kecilku. Diam membisumu membuat aku ingin mendekatimu lebih dalam.

Tangan kotor ini tergoda untuk menyentuhmu seolah berjabat tangan. Sejenak aku terdiam dan menyadari kau tumbuh setengah layu. Lalu akupun bertanya kepadamu “ada apa dengan dirimu hai bunga?”, angin berhembus dan kau hanya terdiam dengan membiarkan angin berhembus di daun-daunmu. Sabar aku menunggu dengan angan yang semakin bertanya-tanya, hingga waktu berlalu kau tak kunjung menjawab tanyaku.

Keesokan hari aku kembali datang dengan membawakan air untuk menyirammu.

Tekejut kau berucap “air yang kau bawa tak mampu buatku kembali segar”,

“Lalu apa yang harus aku bawa?” sahutku lalu kau kembali diam.

71709-stock-photo-old-flower-death-rose-grief-thinRasa penasaran mendorongku untuk bertanya kepada orang-orang di taman. Mereka tahu tentang dirimu tapi tak tahu mengapa kau layu. Anehnya mimik muka mereka seperti menyembunyikan sesuatu seolah aku tak boleh sedikitpun tahu.

Teman dekatku di taman menyambut “banyak orang yang hanya memetiknya lalu pergi melupakannya”.

Kembali aku bertanya padamu “benarkah orang-orang seperti itu kepadamu?”

“itu bukan urusanmu” jawabmu singkat.

“aku hanya ingin menolongmu” balasku. Dan kau lagi-lagi kembali terdiam.

Tak menyerah untuk tetap mencoba dekati bunga itu. Setiap pagi aku siapkan air untuk menyiramnnya meskipun aku tau dia tak akan kembali segar sedia kala. Hingga suatu ketika aku ingin membawa bunga itu pulang untuk aku tanam ditempat yang layak dan tak ada lagi seorangpun yang memetik indah mekar bunganya.

“maukah kau ku bawa pulang?” tanyaku kepada si bunga.

“aku tidak mau” jawabmu singkat

“aku cuma ingin melindungimu dari orang yang kemarin-kemarin” coba yakinkan bunga.

“aku tidak mau” kukuhmu.

Berulang-ulang aku menyakan itu setiap hari aku datang ke taman itu. Berbagai cara aku coba untuk membuatnya tak lagi setengah layu. Berbagai macam pupuk aku coba, hingga suatu ketika aku bersumpah dalam diri “aku akan tetap menunggumu hingga kau bisa segar kembali seperti layaknya bunga yang lain”.

Entah apa yang terjadi, setiba aku datang dan belum menyirami bunga itu dia berkata “bawa aku kerumahmu, tanam aku di tempat yang kau bisa melihatku dan menyiramiku, dan jagalah aku”. Bergegas aku mengangkatmu dari tanah taman yang sudah kotor itu. Kubawa bunga itu meski durinya melukai tanganku. Kembali kutanam dia tepat di depan pintu rumahku, setelah itu aku duduk di bangku kecil dekat jendela. Sadarku melihat dirimu begitu indah dipandang mata.

“tenyata kau tidak layu seperti kelihatannya, hanya saja kau tumbuh ditempat yang salah” ucapku kepada si bunga.

“aku tetaplah aku, seindah apapun aku, aku tetap bunga setengah layu” tandasnya.

“seperti apapun kamu, kau tetap bungaku” akhiriku.

-the end-

terima kasih insprisariku

Old-Man-Flowers-014