Cerita Cafe Pinggir Jalan

Aku menghela nafas, melihat kembali kerangka cerpen yang baru saja aku buat. “Ahh.. karya ini payah!!” batinku kesal. Rokok ini akan habis begitu terkena bara api, dihisap atau dibiarkan. Sebuah cerita juga akan habis, entah itu habis sebuah konflik yang mengakhirinya atau habis termakan jaman.

Aku menatap kembali layar monitorku, menikmati asap rokok sambil memainkan jemariku pada papan barisan huruf dan kembali memulai cerita itu. Cerita tentang seorang perempuan yang tak sengaja jatuh cinta.

Sebut saja namanya Wulan, begitulah perempuan itu aku beri nama. perempuan yang selalu tersenyum dalam kemelut masalahnya. Dia yang sedang duduk seorang diri disebuah cafe kecil di pinggir jalan ketika lelaki itu menghampirinya dan melarutkannya dalam senda gurau.

Terlihat bahagia bukan?? tentu saja, sengaja aku membuat ceritanya seperti itu. Jika saja ceritanya bisa di “pause” pada titik ini, aku ingin sekali melakukannya. Menceritakan kisah-kisah yang indah saja, membiarkan konflik tersapu kata-kata indah, tak ada air mata, dan tak ada batin yang terguncang. Lagi-lagi itu hal yang tidak mungkin terjadi. Bahkan dunia nyataku tak pernah menawarkan hal semacam itu. hanya karena tak nampak bukan berarti konflik itu tak ada. Konflik akan terus mengunyahmu sampai habis bahkan disaat kau pikir hidup yang kau ambil sudah benar, itu menurutmu. Mungkin orang biasa menyapanya “ujian hidup”.

Kulanjutkan cerita dengan memberi sidikit aroma agar cerita ini tak menjadi hambar.

Bermula dari cafe berlanjut ke sebuah hotel kecil. Memang benar awalnya hanya berjabat tangan, lalu berkembang menjadi cumbuan ala film dewasa.

Layaknya lagu setengah melayu yang berkata “pulang berbadan dua” si Wulan pulang tak lagi sendiri. Bukannya raut kebahagiaan yang nampak di wajahnya melainkan kekhawatiran. Lingkungannya, dimana hal yang telah terjadi dalam dirinya adalah hal yang tak layak untuk terjadi. Ketakutan meluap hingga raut mukanya yang tampak pucat. Wajar seorang gadis takut itu terjadi hingga orang tuanya mengetahuinya.

Galau, itu sebutan jaman sekarang dikalangan anak muda. Memilih antara dua sisi yang sama berat, pertahankan si kecil atau mengakhiri cerita si kecil yang baru menorehkan setitik cerita. Wulan dan lekakinya yang sebut saja namanya Sunari gusar akan kesiapan mereka untuk menjadi orang tua si kecil. Diskusi sejenak dan iya benar saja kesimpulannya si kecil harus menutup ceritanya.

Rasa muak menyeruak di dalam hatiku. Cerita belum berakhir tapi aku sudah tak ingin melanjutkannya. Nyali ciut untuk bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat yang membuatku jijik. Entah apa yang akan terjadi pada mereka. Happy ending atau sad ending aku tak lagi perduli. Tak akan ada si kecil lucu, tak ada pasangan yang serasi, tak ada keluarga kecil yang tergambar , dan yang ada hanya aku tak ingin melanjutkan cerita ini.

Kututup layar laptopku dengan paksa, kunyalakan kembali rokokku, dan dengan tertunduk aku bergegas keluar dari cafe pinggir jalan itu.

-the end-

-in memoriam Adistia & Baskoro-

-this story belong to you-