Sudahkah Kita Benar-benar Pulang

Pulang, mungkin sudah sebuah kebiasaan yang kita lakukan. Pernahkah kita benar-benar pulang aatau hanya raga kita saja yang pulang?. Kebiasaan yang menjadi rutinitas wajar menjadikan pulang hanya sebuah wacana ditengah hiruk pikuknya kehidupan kita.

“Aku Ingin Pulang” adalah sebuah judul lagu yang diciptakan oleh Ebiet G. Ade yang sudah mewakili apa yang selama ini membuat kita benar-benar harus pulang. Kurun waktu yang cukup lama aku (ipong) tak pulang menjadi aku (Gunawan). Raga ini pulang tapi entah kemana jiwa ku ini pulang kemana. Aku entah menjadi Gunawan atau Ipong hanya ingin benar-benar pulang dengan keluargaku dan rumahku.

 Aku Ingin Pulang

Kemanapun aku pergi

Bayang bayangmu mengejar

Bersembunyi dimanapun

S’lalu engkau temukan

Aku merasa letih dan ingin sendiri

Ku tanya pada siapa

Tak ada yang menjawab

Sebab semua peristiwa

Hanya di rongga dada

Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut

Ku sadari langkah menyusuri pantai

Aku merasa mendengar suara

Menutupi jalan

Menghentikan petualangan

Kemanapun aku pergi

Selalu ku bawa bawa

Perasaan yang bersalah datang menghantuiku

Masih mungkinkah pintumu ku buka

Dengan kunci yang pernah kupatahkan

Lihatlah aku terkapar dan luka

Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang

Aku harus pulang

(Ebiet G Ade)

Terima kasih Bapak, Bunda, Mbak Gati, dan Mas Galih masih mengijinkan aku masuk rumah kita yang sudah lama aku tinggalkan. AKU PULANG…

Secangkir Kopi Manis Pahit

Pagi ini aku berangkat menuju kantor dengan semangat yang kurang sipp. Masalah hari kemarin membuat deru motor vespa tua yang kukendarai menjadi suara yang tak membuatku membaik. Padahal biasanya dengan motor aku limpahkan keluh kesahku dan membawanya menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam perjalanan. Rasa ngantuk menjadi ucapan selamat datang sesampai di kantor.

Membuka laptop, menyiapkan semua keperluan, dan tak lupa segelas air untuk menemani hari kerja. Pemutar musik menjadi acara pertama ketika laptop memulai aktifitasnya. Sayangnya semangatku masih saja tak kunjung hadir menemani hari kerja yang mulai memadat. Bisikan setan mengajak tidur terus saja menderu ditelinga yang memanas cerita malam itu. Aku terus melawan dengan berbagai cara dari menggambar hingga menulis cerita ini.

Teringat waktu masih di kampung halaman ada teman baik seorang seniman dengan sapaan Andre Gondrong yang tak pernah lepas dengan secangkir kopi buatannya yang khas. Kental, pahit, manis, dan senyuman adalah ramuan terkuat untuk melawan apapun yang melemahkan diri ungkapnya saat itu. Bagi Andre Gondrong secangkir kopi manis pahit bukan hanya minuman tapi sebuah gambaran hidup.

Cangkir dia maknai sebagai dunia kita yang kecil ini, Kopi adalah hidup kita yang bisa saja jadi manis atau pun pahit. Tak selamanya kopi akan terus menjadi pahit dan tak selamanya pula menjadi manis. Bagaimana cara meramunya tergantung selera yang kita inginkan. Begitu pula hidup kita, mau dijadikan manis atau pahit itu adalah pilihan kita dan nantinya juga kita sendiri yang akan menikmatinya. Dan bagi Andre kopi yang nikmat adalah kopi yang pahit dan manisnya pass. Aku pun tersadar jika hari ini aku kurang semangat bukan karena apa yang terjadi sebelumnya tapi karena aku meraciknya dengan sedikit pemanis. Racikan hari ini perlu berikan pemanis agar kenikmatan bisa aku dapatkan. Akhirnya, aku pun meminta tolong kepada Kang Zaenal untuk membuatkan secangkir kopi seperti biasa aku pesan. Alangkah nikmat kurasakan kopi ini begitu pula hidupku.

“Kopi yang pahit dan manisnya bersatu menjadi sebuah kenikmatan itulah Kopi Kehidupan, layaknya hidup yang nikmat ini”

-Andre Rasul (Gondrong)-

Ibarat Menggali Lubang

Menggali dan terus menggali, seperti itulah manusia hidup sebagaimana layaknya. Beberapa orang menggali ilmu, sebagian menggali kekayaan, adapula yang menggali spiritualnya, dan macam-macam setiap keinginan yang ingin dicapai masing-masing manusia. Kedalaman berbeda beda yang telah dicapai oleh berbagai macam orang. Bergantung seperti apa alatnya, tekniknya, dan sistemasinya.

Ibaratkan saja kita sedang menggali sebuah tanah dengan alat apapun yang kita miliki. Semakin dalam lubang yang kita gali, tanah akan semakin mengeras dan semakin berbatu. Dikedalaman udara juga semakin menipis yang membuat nafas menjadi lebih berat dan tenaga yang kita gunakan untuk menggali semakin menurun.

Sebuah cerita pernah aku dengar dari orang tuaku tentang penggali emas. Penggali emas ini sudah bertahun-tahun menggali sebuah lubang yang menurut penelitiannya ada emas didalamnya. Hanya saja hasil penelitiannya tak tahu pasti berapa kedalaman emas itu terpendam dibawah tanah.

Berhari-hari si penggali terus bekerja keras dengan gigihnya untuk mendapatkan emas dalam tanah itu. Tanah cadas keras tak mengurungkan niatnya untuk meneruskan penggalian. Tak kunjung menemukan emas si penggali pun mulai patah semangat dan tak lagi menggunakan logikanya. Untuk mempercepat prosesnya si penggali menggunakan peledak untuk memudahkan penggaliannya. Setelah diledakkan bukannya semakin mudah malah membuat dinding tanah galiannya runtuh dan menimbun kembali lubang yang sudah digalinya dengan dalam. Kemarahan, kegusaran, dan penyesalan terpahat diraut wajahnya.

Seorang yang kebetulan lewat berkata padanya “sudahlah, gali saja lagi. Kau tak akan mendapat apapun jika kau hanya berdiam dengan amarahmu yang mendidih itu”

Si penggali kembali masuk kedalam lubang dan memulai kembali penggaliannya. Terus bersabar dengan becermin pada ulahnya sendiri, si penggali perlahan namun pasti kembali mendapatkan kedalaman yang sudah ia raih sebelumnya. Tanpa banyak berfikir si penggali hanya ingin tetap fokus untuk menggali lubangnya. Alangkah terkejutnya si penggali setelah beberapa inchi saja dari kedalaman yang sudah dia raih sebelumnya, emas yang dia harapakan muncul di depan mata. Si penggali tertunduk dengan bahagia atas usahanya selama ini. Dia menyadari jika dia mau bersabar menggali dan tak menggunakan peledak dia tak perlu menggali dua kali untuk emas yang dia cari-cari.

Cerita itu terus aku ingat hingga saat ini. Kesabaran dan ketelatenan untuk mencapai hal yang kita inginkan tak begitu saja dengan cara instant kita dapatkan. Usaha keras dan terus belajar dari kesalahan akan membimbing kita menuju sesuatu yang kita harapkan. Belajar dari si penggali tersebut patutnya kita lebih bisa bersabar, berusaha, dan berevaluasi diri untuk mencapai hal yang sangat berharga melebihi emas termahal di dunia sekalipun.

 

Aerials

Life is a waterfall
we’re one in the river
and one again after the fall
swimming through the void
we hear the word
we lose ourselves
but we find it all….
cause we are the ones that want to play
always want to go
but you never want to stay
and we are the ones that want to choose
always want to play
but you never want to lose
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
life is a waterfall
we drink from the river
then we turn around and put up our walls
swimming through the void
we hear the word
we lose ourselves
but we find it all…
cause we are the ones that want to play
always want to go
but you never want to stay
and we are the ones that want to choose
always want to play
but you never want to lose
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
aerials, so up high
when you free your eyes eternal prize
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
aerials, so up high
when you free your eyes eternal prize

Obral Ilmu, Belajar Banyak, dan Proses Perubahan.

Hari keempat dan terakhir pelatihan TFCA berjalan. Di-plot sebagai tenaga bantu, dengan sedikit sentuhan dan gesekan aku merubahnya menjadi ajang belajar besar-besaran.

“ini obral ilmu cuma-cuma” kata imajinasiku.

Bertemu dan berbincang dengan para peserta pelatihan, mendengar cerita tentang dedikasinya dalam bekerja, dan mencatat beberapa materi yang begitu menarik, membuatku tak sabar menunggu pelatihan-pelatihan selanjutnya yang akan datang. Bayangkan saja jika tiap minggu ada 1 kali pelatihan saja dalam 1 hari, bukankah itu akan mencerdaaskan berapa orang di bumi ini??

Anehnya, banyak kawan-kawan merasa malas dengan kemasan takut untuk mengikuti pelatihan semacam ini. Padahal, paling tidak kalau kita gak ngapa-ngapain di pelatihan itu kita bisa dapet makan gratis lohh. Lantas, apa yang perlu ditakutkan dan dihindari untuk hadir??

Pembahasan hari ini adalah tentang perubahan organisasi. Pemateri mengungkapkan bahwa perubahan dalam organisasi perlu dilakukan untuk proses perbaikan dan pembaruan dalam organisasi agar menjadi lebih baik. Tubuh kita juga tidak jauh beda seperti halnya sebuah organisasi jaringan organ yang saling berkerja sama untuk aktivias kita setiap hari. Perubahan kearah yang lebih baik juga perlu kita lakukan, perubahan tersebut dapat kita capai dengan belajar.

Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan baru, dan pengetahuan baru itu akan kita gunakan untuk melakukan langkah perubahan yang akan kita lakukan. Tempat kita belajar bisa dimanapun kita lakukan yang penting adalah adanya kemauan kita untuk belajar. Karena pada dasarnya belajar itu tiada akhirnya.

“belajarlah kamu semenjak dari ayunan hingga liang lahat” itu sabda Rosulullah lhoo..

Mungkin begitu saja tulisan kali ini. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan..

Selamat Siang Risa

Pagi itu sang bapak berangkat kerja seperti rutinitasnya setiap pagi dengan motor vespa biru satu-satunya. Sang ibu yang mengisi harinya dengan menjadi tukang jahit di tengah kesibukannya menjaga kedua anaknya.

Kesulitan ekonomi yang tengah dihadapi, anak terkecil keluarga tersebut menderita sakit. Ibu hanya memiliki sedikit uang simpanan mengambil sebagian dan berangkatlah dia memeriksakan anak terkecilnya.

Ujian semakin lengkap dengan mulai habisnya kebutuhan pokok rumah dan habisnya uang simpanan yang mereka miliki dengan si kecil yang tak kunjung sembuh. Situasi ekonomi yang mendesak tawaran untuk “kerja sama” dengan sang bapak tak membuat pendirian bapak tergiur dengan tarawan sejumlah uang yang diberikan. Kalimat singkat yang menutup pembicaraan kerjasama mereka sang bawa berucap “mungkin saya goblok, tapi kebodohan saya gak akan saya sesali sampai mati”.

Budaya bersih yang terapkan dalam keluarga kecil ini mendarah daging hingga anaknya yang bernama Risa tumbuh dewasa. Bekerja disebuah kantor besar Risa yang mewarisi darah seorang yang berbudaya bersih ini, menolak tawaran “kerja sama” dengan kalemnya.

Begitulah gambaran dari film yang kita tonotn dipelatihan hari sabtu kemarin. Bersama mbak Via, Bro Jimm, Bang Jefry dan Dzikri melihat dengan seksama film pendek tersebut. Mau lihat lengkapnya?? Sikat link di bawah gaan!!

Film Selengkapnya: Selamat Siang Risa

Karya: Sha Ine Febriyanti

Thanks to: Allah SWT, Yayasan Syair, Soeltan & Tonny Caffe, Kawan-kawan Penabulu Alliance.