Hal Baru untuk Mencoba

“Hal baru” itu kadang menjadi momok untuk sebagian orang. Pemikiran yang menganggap diri tidak mampu untuk menerima atau mempelajari “hal baru” itu menjadi pengkerdilan diri sendiri. Mau tidak mau selama kita hidup kita akan terus menemui hal baru seiring dengan pertumbuhan jaman. “Hal baru” yang kita sukai saja kadang masih memunculkan keraguan dalam diri kita, apalagi “hal baru” yang tidak kita sukai.

“Mencoba” sebuah kegitan perkenalan yang bisa dilakukan kepada “hal baru”. Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” lalu kenapa tidak “mencoba” untuk berkenalan dengan “hal baru”. Janganlah berpikiran bahwa “hal baru” itu akan berimbas baik atau buruk kepada kita, selama yang saya tahu ketika kita mau “mencoba” semuanya akan menjadi baik.

Gambarkan saja jika kita bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal dan pertama kali kita melihatnya atau mungkin berkomunikasi jarak jauh via chatting, surat, dll saja belum pernah. Baik atau buruk orang tersebut jika kita mau menganalnya kita akan tahu bagaimana kita harus berbuat atau bertindak. Jika buruk maka hindari, jika baik maka lanjutkan!. Sayang jika kita tidak mengenal orang tersebut, kalau di pikir-pikir kita tetap memperoleh “hal baru”.

“Mencoba” akan mendekatkan kita dengan “Hal Baru” hasilnya tetap kita yang untung.

Membaca adalah Pertama

Mengulang kembali cerita tentang Rosul ketika menerima wahyu pertamanya ketika beliau diangkat menjadi Rosul terakhir. Wahyu pertama tidak juga menjadi surat pertama dalam Al-Qur’an dan tidak juga menjadi surat yang wajib dibaca ketika shalat.

Iqro’ adalah kata pertama yang muncul dari ayat pertama wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta. Benar, kata yang berarti “Bacalah” jelas memberi kita perintah untuk membaca. Pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita baca?” lalu “Bagaimana membacanya?”.

Bernostalgia dengan masa lalu, ketika bangku TPQ menjadi makanan sehari-hari, teringat seberapapun sibuknya dengan permainan yang seru mengaji menjadi kewajiban bagiku. Beranjak keusia lebih remaja kajian semakin mendalam dan filosofis, Abah (guru di TPQ) berpesan untuk selalu membaca. Dasar yang digunakan masih sama yaitu wahyu pertama yang turun dari Allah, ayat pertama yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Bacalah! dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Kembali pada pertanyaan pertama yang muncul “Apa yang harus kita baca?”, bapak saya menjawabnya dengan singkat “apapun yang kamu lihat”. Jawaban tersebut itu cukup menyimpulkan semuanya, dari apa yang kita lihat semua ada membacanya dengan baik akan menjadi sebuah ilmu baru untuk kita. pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana membacanya?”, dengan lugas dalam Al Qur’an menjawab “dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan”. Terang saja bahwa semua yang diciptakan di dunia ini untuk diperlajari dan untuk menjadi renungan bagi kita akan kuasa-Nya. Lihat lalu dalami itu dengan hati yang terbuka maka kita akan mendapat sesuatu yang amat penting untuk kita hidup hingga kita akan menjadi lebih baik.

“Membaca bukan saja tulisan dan literasi, membaca adalah pendalaman terhadap sesuatu yang kita temui”