Hal Baru untuk Mencoba

“Hal baru” itu kadang menjadi momok untuk sebagian orang. Pemikiran yang menganggap diri tidak mampu untuk menerima atau mempelajari “hal baru” itu menjadi pengkerdilan diri sendiri. Mau tidak mau selama kita hidup kita akan terus menemui hal baru seiring dengan pertumbuhan jaman. “Hal baru” yang kita sukai saja kadang masih memunculkan keraguan dalam diri kita, apalagi “hal baru” yang tidak kita sukai.

“Mencoba” sebuah kegitan perkenalan yang bisa dilakukan kepada “hal baru”. Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” lalu kenapa tidak “mencoba” untuk berkenalan dengan “hal baru”. Janganlah berpikiran bahwa “hal baru” itu akan berimbas baik atau buruk kepada kita, selama yang saya tahu ketika kita mau “mencoba” semuanya akan menjadi baik.

Gambarkan saja jika kita bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal dan pertama kali kita melihatnya atau mungkin berkomunikasi jarak jauh via chatting, surat, dll saja belum pernah. Baik atau buruk orang tersebut jika kita mau menganalnya kita akan tahu bagaimana kita harus berbuat atau bertindak. Jika buruk maka hindari, jika baik maka lanjutkan!. Sayang jika kita tidak mengenal orang tersebut, kalau di pikir-pikir kita tetap memperoleh “hal baru”.

“Mencoba” akan mendekatkan kita dengan “Hal Baru” hasilnya tetap kita yang untung.

Merindukan RPM Tinggi

Ketika dulu ajang balap masih menjadi teman terdekat, tangan ini selalu berkeringat basah menatap garis finish. Detak jantung berdegup kencang mendengar deru mesin yang sedang pemanasan di padock. Badan duduk di kursi santai ala kadarnya bersiap menari bersama lintasan yang berkelok.

Race suit usang membalut, helm bersiap dengan gagahnya, motor siap berpacu dalam melodi, dan aku yang menikmati iramanya. Bersiap di garis start melihat trek lurus kedepan membayangkan kemenangan yang kadang tak mudah untuk diraih. Canda kecil mewarnai persiapan di garis start dan lampu start yang sudah mulai menyala. Tepukan di pundak menjadi pengganti kalimat “good luck” menjadi pemisah sementara aku dengan tim mekanik terbaik yang pernah aku kenal.

Begitu nikmat aku melalui race hingga semua tersimpul saat finish. Tak pernah terpikir untuk selalu menjadi pemenang, yang kita lakukan hanya menikmati indahnya dunia balap ini. Kemenangan hanya hadiah dari kerja keras dan kekalahan menjadi pelajaran itu saja yang terpikir dalam benak kami.  Kebersamaan yang kuat antara aku, tim, dan motor menjadi cerita yang tertoreh dalam buku catatan harian.

Iya benar, aku merindukan itu semua…

Secangkir Kopi Manis Pahit

Pagi ini aku berangkat menuju kantor dengan semangat yang kurang sipp. Masalah hari kemarin membuat deru motor vespa tua yang kukendarai menjadi suara yang tak membuatku membaik. Padahal biasanya dengan motor aku limpahkan keluh kesahku dan membawanya menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam perjalanan. Rasa ngantuk menjadi ucapan selamat datang sesampai di kantor.

Membuka laptop, menyiapkan semua keperluan, dan tak lupa segelas air untuk menemani hari kerja. Pemutar musik menjadi acara pertama ketika laptop memulai aktifitasnya. Sayangnya semangatku masih saja tak kunjung hadir menemani hari kerja yang mulai memadat. Bisikan setan mengajak tidur terus saja menderu ditelinga yang memanas cerita malam itu. Aku terus melawan dengan berbagai cara dari menggambar hingga menulis cerita ini.

Teringat waktu masih di kampung halaman ada teman baik seorang seniman dengan sapaan Andre Gondrong yang tak pernah lepas dengan secangkir kopi buatannya yang khas. Kental, pahit, manis, dan senyuman adalah ramuan terkuat untuk melawan apapun yang melemahkan diri ungkapnya saat itu. Bagi Andre Gondrong secangkir kopi manis pahit bukan hanya minuman tapi sebuah gambaran hidup.

Cangkir dia maknai sebagai dunia kita yang kecil ini, Kopi adalah hidup kita yang bisa saja jadi manis atau pun pahit. Tak selamanya kopi akan terus menjadi pahit dan tak selamanya pula menjadi manis. Bagaimana cara meramunya tergantung selera yang kita inginkan. Begitu pula hidup kita, mau dijadikan manis atau pahit itu adalah pilihan kita dan nantinya juga kita sendiri yang akan menikmatinya. Dan bagi Andre kopi yang nikmat adalah kopi yang pahit dan manisnya pass. Aku pun tersadar jika hari ini aku kurang semangat bukan karena apa yang terjadi sebelumnya tapi karena aku meraciknya dengan sedikit pemanis. Racikan hari ini perlu berikan pemanis agar kenikmatan bisa aku dapatkan. Akhirnya, aku pun meminta tolong kepada Kang Zaenal untuk membuatkan secangkir kopi seperti biasa aku pesan. Alangkah nikmat kurasakan kopi ini begitu pula hidupku.

“Kopi yang pahit dan manisnya bersatu menjadi sebuah kenikmatan itulah Kopi Kehidupan, layaknya hidup yang nikmat ini”

-Andre Rasul (Gondrong)-

Ibarat Menggali Lubang

Menggali dan terus menggali, seperti itulah manusia hidup sebagaimana layaknya. Beberapa orang menggali ilmu, sebagian menggali kekayaan, adapula yang menggali spiritualnya, dan macam-macam setiap keinginan yang ingin dicapai masing-masing manusia. Kedalaman berbeda beda yang telah dicapai oleh berbagai macam orang. Bergantung seperti apa alatnya, tekniknya, dan sistemasinya.

Ibaratkan saja kita sedang menggali sebuah tanah dengan alat apapun yang kita miliki. Semakin dalam lubang yang kita gali, tanah akan semakin mengeras dan semakin berbatu. Dikedalaman udara juga semakin menipis yang membuat nafas menjadi lebih berat dan tenaga yang kita gunakan untuk menggali semakin menurun.

Sebuah cerita pernah aku dengar dari orang tuaku tentang penggali emas. Penggali emas ini sudah bertahun-tahun menggali sebuah lubang yang menurut penelitiannya ada emas didalamnya. Hanya saja hasil penelitiannya tak tahu pasti berapa kedalaman emas itu terpendam dibawah tanah.

Berhari-hari si penggali terus bekerja keras dengan gigihnya untuk mendapatkan emas dalam tanah itu. Tanah cadas keras tak mengurungkan niatnya untuk meneruskan penggalian. Tak kunjung menemukan emas si penggali pun mulai patah semangat dan tak lagi menggunakan logikanya. Untuk mempercepat prosesnya si penggali menggunakan peledak untuk memudahkan penggaliannya. Setelah diledakkan bukannya semakin mudah malah membuat dinding tanah galiannya runtuh dan menimbun kembali lubang yang sudah digalinya dengan dalam. Kemarahan, kegusaran, dan penyesalan terpahat diraut wajahnya.

Seorang yang kebetulan lewat berkata padanya “sudahlah, gali saja lagi. Kau tak akan mendapat apapun jika kau hanya berdiam dengan amarahmu yang mendidih itu”

Si penggali kembali masuk kedalam lubang dan memulai kembali penggaliannya. Terus bersabar dengan becermin pada ulahnya sendiri, si penggali perlahan namun pasti kembali mendapatkan kedalaman yang sudah ia raih sebelumnya. Tanpa banyak berfikir si penggali hanya ingin tetap fokus untuk menggali lubangnya. Alangkah terkejutnya si penggali setelah beberapa inchi saja dari kedalaman yang sudah dia raih sebelumnya, emas yang dia harapakan muncul di depan mata. Si penggali tertunduk dengan bahagia atas usahanya selama ini. Dia menyadari jika dia mau bersabar menggali dan tak menggunakan peledak dia tak perlu menggali dua kali untuk emas yang dia cari-cari.

Cerita itu terus aku ingat hingga saat ini. Kesabaran dan ketelatenan untuk mencapai hal yang kita inginkan tak begitu saja dengan cara instant kita dapatkan. Usaha keras dan terus belajar dari kesalahan akan membimbing kita menuju sesuatu yang kita harapkan. Belajar dari si penggali tersebut patutnya kita lebih bisa bersabar, berusaha, dan berevaluasi diri untuk mencapai hal yang sangat berharga melebihi emas termahal di dunia sekalipun.

 

Obral Ilmu, Belajar Banyak, dan Proses Perubahan.

Hari keempat dan terakhir pelatihan TFCA berjalan. Di-plot sebagai tenaga bantu, dengan sedikit sentuhan dan gesekan aku merubahnya menjadi ajang belajar besar-besaran.

“ini obral ilmu cuma-cuma” kata imajinasiku.

Bertemu dan berbincang dengan para peserta pelatihan, mendengar cerita tentang dedikasinya dalam bekerja, dan mencatat beberapa materi yang begitu menarik, membuatku tak sabar menunggu pelatihan-pelatihan selanjutnya yang akan datang. Bayangkan saja jika tiap minggu ada 1 kali pelatihan saja dalam 1 hari, bukankah itu akan mencerdaaskan berapa orang di bumi ini??

Anehnya, banyak kawan-kawan merasa malas dengan kemasan takut untuk mengikuti pelatihan semacam ini. Padahal, paling tidak kalau kita gak ngapa-ngapain di pelatihan itu kita bisa dapet makan gratis lohh. Lantas, apa yang perlu ditakutkan dan dihindari untuk hadir??

Pembahasan hari ini adalah tentang perubahan organisasi. Pemateri mengungkapkan bahwa perubahan dalam organisasi perlu dilakukan untuk proses perbaikan dan pembaruan dalam organisasi agar menjadi lebih baik. Tubuh kita juga tidak jauh beda seperti halnya sebuah organisasi jaringan organ yang saling berkerja sama untuk aktivias kita setiap hari. Perubahan kearah yang lebih baik juga perlu kita lakukan, perubahan tersebut dapat kita capai dengan belajar.

Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan baru, dan pengetahuan baru itu akan kita gunakan untuk melakukan langkah perubahan yang akan kita lakukan. Tempat kita belajar bisa dimanapun kita lakukan yang penting adalah adanya kemauan kita untuk belajar. Karena pada dasarnya belajar itu tiada akhirnya.

“belajarlah kamu semenjak dari ayunan hingga liang lahat” itu sabda Rosulullah lhoo..

Mungkin begitu saja tulisan kali ini. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan..

Selamat Siang Risa

Pagi itu sang bapak berangkat kerja seperti rutinitasnya setiap pagi dengan motor vespa biru satu-satunya. Sang ibu yang mengisi harinya dengan menjadi tukang jahit di tengah kesibukannya menjaga kedua anaknya.

Kesulitan ekonomi yang tengah dihadapi, anak terkecil keluarga tersebut menderita sakit. Ibu hanya memiliki sedikit uang simpanan mengambil sebagian dan berangkatlah dia memeriksakan anak terkecilnya.

Ujian semakin lengkap dengan mulai habisnya kebutuhan pokok rumah dan habisnya uang simpanan yang mereka miliki dengan si kecil yang tak kunjung sembuh. Situasi ekonomi yang mendesak tawaran untuk “kerja sama” dengan sang bapak tak membuat pendirian bapak tergiur dengan tarawan sejumlah uang yang diberikan. Kalimat singkat yang menutup pembicaraan kerjasama mereka sang bawa berucap “mungkin saya goblok, tapi kebodohan saya gak akan saya sesali sampai mati”.

Budaya bersih yang terapkan dalam keluarga kecil ini mendarah daging hingga anaknya yang bernama Risa tumbuh dewasa. Bekerja disebuah kantor besar Risa yang mewarisi darah seorang yang berbudaya bersih ini, menolak tawaran “kerja sama” dengan kalemnya.

Begitulah gambaran dari film yang kita tonotn dipelatihan hari sabtu kemarin. Bersama mbak Via, Bro Jimm, Bang Jefry dan Dzikri melihat dengan seksama film pendek tersebut. Mau lihat lengkapnya?? Sikat link di bawah gaan!!

Film Selengkapnya: Selamat Siang Risa

Karya: Sha Ine Febriyanti

Thanks to: Allah SWT, Yayasan Syair, Soeltan & Tonny Caffe, Kawan-kawan Penabulu Alliance.

Basic PC: Terlihat Sepele tapi Penting

Sore itu bersama kawan-kawan Penabulu tower 2 kuliah 4 sks kata bapak dosen Bayu Nugraha mempelajari tentang basic dari PC. Mahasiswanya sebut saja namanya Bang Godil, Dzikry, Mbak Phia, Mbak Dwi, dan sebut saja Iponk mengenal PC atau senjata utama kita yaitu laptop.

Mungkin seluruh kawan-kawan Penabulu juga menggunakan senjata yang sama. Tapi sudahkan kita memahami benar senjata yang kita pakai?? Bahayanya, kalo gak memahami betul bisa jadi senjata makan tuan. Bisa jadi kita tidak terbantu malah bikin kita sendiri pusing akrena lemot, error, dan bla bla bla. Mungkin juga kawan-kawan Penabulu sudah mengenalnya, tapi gapapa laaah berbagi ilmu bersama..

Sikat saja langsung tentang basic PC. Kinerja senjata utama kita sering tidak maksimal belum tentu karena umur yang sudah tua atau tidak support dengan kebutuhan kita. Ibarat pisau, meskipun tua kalo rajin diasah juga bakal tetep tajam kan?. Sama halnya dengan senjata kita, jika kita melakukan perawatan yang benar maka sentaja kita bakal tetap yahuuud. Bagaimana agar pc/laptop tetep bekerja dengan baik?? Berikut sekilas pandang kuliah 4 sks kami secara bertahap dijelaskan oleh bapak Bayu Nugraha.

Pertama, kita kenali dulu apa prosesor yang kita pakai, berapa ram yang kita pakai, windows apa yang terinstal, dan bagaimana mengoptimalkan dari dasar ini?.

Kedua, kita belajar tentang partisi atau pembagian drive pada hard disk. “Karena dari partisi hardisk pula yang bisa mempengaruhi kinerja senjata kita.” tangkas pak Bayu.

Ketiga, memindahkan my document ke selain drive C:.

Keempat, memeriksa aplikasi yang sudah terinstal pada PC kita.

Kelima, manage startup.

Keenam, memeriksa password dan jangka waktu “sleep” agar password yang kita pakai berfungsi dengan semestinya.

Dan terakhir optimalisasi kinerja pc/laptop.

Sepertinya cukup seperti ini saja sih ceritanya. Tapi gak perlu khawatir, iponk creation sudah bikin modul yang siap di download buat kawan-kawan Penabulu yang lain. Tinggal klik sudah siap comot gan!!

Cekidot gaan!!! : unduh modul (format pdf)

NB: Kuliah dengan materi selanjutnya dengan Bapak Bayu Nugraha masih akan ada lagi looh, cuma waktunya saja yang belum pasti. kontak saja bapak dosennya bisanya kapan. hehehe

Cerita Cafe Pinggir Jalan

Aku menghela nafas, melihat kembali kerangka cerpen yang baru saja aku buat. “Ahh.. karya ini payah!!” batinku kesal. Rokok ini akan habis begitu terkena bara api, dihisap atau dibiarkan. Sebuah cerita juga akan habis, entah itu habis sebuah konflik yang mengakhirinya atau habis termakan jaman.

Aku menatap kembali layar monitorku, menikmati asap rokok sambil memainkan jemariku pada papan barisan huruf dan kembali memulai cerita itu. Cerita tentang seorang perempuan yang tak sengaja jatuh cinta.

Sebut saja namanya Wulan, begitulah perempuan itu aku beri nama. perempuan yang selalu tersenyum dalam kemelut masalahnya. Dia yang sedang duduk seorang diri disebuah cafe kecil di pinggir jalan ketika lelaki itu menghampirinya dan melarutkannya dalam senda gurau.

Terlihat bahagia bukan?? tentu saja, sengaja aku membuat ceritanya seperti itu. Jika saja ceritanya bisa di “pause” pada titik ini, aku ingin sekali melakukannya. Menceritakan kisah-kisah yang indah saja, membiarkan konflik tersapu kata-kata indah, tak ada air mata, dan tak ada batin yang terguncang. Lagi-lagi itu hal yang tidak mungkin terjadi. Bahkan dunia nyataku tak pernah menawarkan hal semacam itu. hanya karena tak nampak bukan berarti konflik itu tak ada. Konflik akan terus mengunyahmu sampai habis bahkan disaat kau pikir hidup yang kau ambil sudah benar, itu menurutmu. Mungkin orang biasa menyapanya “ujian hidup”.

Kulanjutkan cerita dengan memberi sidikit aroma agar cerita ini tak menjadi hambar.

Bermula dari cafe berlanjut ke sebuah hotel kecil. Memang benar awalnya hanya berjabat tangan, lalu berkembang menjadi cumbuan ala film dewasa.

Layaknya lagu setengah melayu yang berkata “pulang berbadan dua” si Wulan pulang tak lagi sendiri. Bukannya raut kebahagiaan yang nampak di wajahnya melainkan kekhawatiran. Lingkungannya, dimana hal yang telah terjadi dalam dirinya adalah hal yang tak layak untuk terjadi. Ketakutan meluap hingga raut mukanya yang tampak pucat. Wajar seorang gadis takut itu terjadi hingga orang tuanya mengetahuinya.

Galau, itu sebutan jaman sekarang dikalangan anak muda. Memilih antara dua sisi yang sama berat, pertahankan si kecil atau mengakhiri cerita si kecil yang baru menorehkan setitik cerita. Wulan dan lekakinya yang sebut saja namanya Sunari gusar akan kesiapan mereka untuk menjadi orang tua si kecil. Diskusi sejenak dan iya benar saja kesimpulannya si kecil harus menutup ceritanya.

Rasa muak menyeruak di dalam hatiku. Cerita belum berakhir tapi aku sudah tak ingin melanjutkannya. Nyali ciut untuk bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat yang membuatku jijik. Entah apa yang akan terjadi pada mereka. Happy ending atau sad ending aku tak lagi perduli. Tak akan ada si kecil lucu, tak ada pasangan yang serasi, tak ada keluarga kecil yang tergambar , dan yang ada hanya aku tak ingin melanjutkan cerita ini.

Kututup layar laptopku dengan paksa, kunyalakan kembali rokokku, dan dengan tertunduk aku bergegas keluar dari cafe pinggir jalan itu.

-the end-

-in memoriam Adistia & Baskoro-

-this story belong to you-

Bunga Setengah Layu

Sudut taman kecil tempatmu tumbuh, beraroma wangi semerbak dan warnamu yang begitu indah. Mendekatimu dari jalan setapak tidaklah sulit dan melihat mekarmu semua orang tersenyum. Namun kau bunga yang cukup membuat penasaran otak kecilku. Diam membisumu membuat aku ingin mendekatimu lebih dalam.

Tangan kotor ini tergoda untuk menyentuhmu seolah berjabat tangan. Sejenak aku terdiam dan menyadari kau tumbuh setengah layu. Lalu akupun bertanya kepadamu “ada apa dengan dirimu hai bunga?”, angin berhembus dan kau hanya terdiam dengan membiarkan angin berhembus di daun-daunmu. Sabar aku menunggu dengan angan yang semakin bertanya-tanya, hingga waktu berlalu kau tak kunjung menjawab tanyaku.

Keesokan hari aku kembali datang dengan membawakan air untuk menyirammu.

Tekejut kau berucap “air yang kau bawa tak mampu buatku kembali segar”,

“Lalu apa yang harus aku bawa?” sahutku lalu kau kembali diam.

71709-stock-photo-old-flower-death-rose-grief-thinRasa penasaran mendorongku untuk bertanya kepada orang-orang di taman. Mereka tahu tentang dirimu tapi tak tahu mengapa kau layu. Anehnya mimik muka mereka seperti menyembunyikan sesuatu seolah aku tak boleh sedikitpun tahu.

Teman dekatku di taman menyambut “banyak orang yang hanya memetiknya lalu pergi melupakannya”.

Kembali aku bertanya padamu “benarkah orang-orang seperti itu kepadamu?”

“itu bukan urusanmu” jawabmu singkat.

“aku hanya ingin menolongmu” balasku. Dan kau lagi-lagi kembali terdiam.

Tak menyerah untuk tetap mencoba dekati bunga itu. Setiap pagi aku siapkan air untuk menyiramnnya meskipun aku tau dia tak akan kembali segar sedia kala. Hingga suatu ketika aku ingin membawa bunga itu pulang untuk aku tanam ditempat yang layak dan tak ada lagi seorangpun yang memetik indah mekar bunganya.

“maukah kau ku bawa pulang?” tanyaku kepada si bunga.

“aku tidak mau” jawabmu singkat

“aku cuma ingin melindungimu dari orang yang kemarin-kemarin” coba yakinkan bunga.

“aku tidak mau” kukuhmu.

Berulang-ulang aku menyakan itu setiap hari aku datang ke taman itu. Berbagai cara aku coba untuk membuatnya tak lagi setengah layu. Berbagai macam pupuk aku coba, hingga suatu ketika aku bersumpah dalam diri “aku akan tetap menunggumu hingga kau bisa segar kembali seperti layaknya bunga yang lain”.

Entah apa yang terjadi, setiba aku datang dan belum menyirami bunga itu dia berkata “bawa aku kerumahmu, tanam aku di tempat yang kau bisa melihatku dan menyiramiku, dan jagalah aku”. Bergegas aku mengangkatmu dari tanah taman yang sudah kotor itu. Kubawa bunga itu meski durinya melukai tanganku. Kembali kutanam dia tepat di depan pintu rumahku, setelah itu aku duduk di bangku kecil dekat jendela. Sadarku melihat dirimu begitu indah dipandang mata.

“tenyata kau tidak layu seperti kelihatannya, hanya saja kau tumbuh ditempat yang salah” ucapku kepada si bunga.

“aku tetaplah aku, seindah apapun aku, aku tetap bunga setengah layu” tandasnya.

“seperti apapun kamu, kau tetap bungaku” akhiriku.

-the end-

terima kasih insprisariku

Old-Man-Flowers-014

Keluarga, Durian, dan Teman

Pagi itu hari kamis tepat jam 7 pagi aku terbangun dari lelapku. Tas carrier besar yang sudah siap-siap dari semalem menunggu untuk numpang di punggung kecilku. Iya ini adalah hari pertama aku pulang ke kota kelahiran untuk bernostalgia semenjak aku bekerja di Penabulu Alliance. Bersama teman senior sekaligus tutor di kantor siap menuju ke stasiun untuk berangkat menuju kampung halaman masing-masing.

Tiba di stasiun tak lama kereta melaju dengan gagahnya di atas rel panas tersengat matahari terik ibu kota. Otak mulai mengajak berdiskusi dengan hati untuk bersiap bertemu dengan keluarga. Bersiap seperti apa?bercerita tentang apa?apakah usaha untuk memperbaiki diri sudah terlihat?. Apapun nanti aku hanya ingin bertemu dengan orang tuaku untuk memeluk erat tubuhnya yang mulai renta. Waktu berlalu aku pun tiba di kota Malang tengah malam, berlanjut sopir taksi yang mengantar menuju rumah yang ramah dengan sambutan peluk hangat dari kedua orang tua. Sungkem aku haturkan kepada kedua orang tua yang sudah mulai renta dan fisiknya mulai melemah itu. Semoga dengan kedatanganku bisa jadi dopping kecil untuk lemahnya fisik mereka yang harus tinggal berdua saja di rumah.

Hari pertama, sesampai di rumah dini hari jum’at hanya terhabiskan untuk revitalisasi tubuh yang tercecer oleh goyangan kereta. Mendekati waktu sholat jum’at aku bangun dan bergegas untuk beribadah. Sesudah sholat jum’at aku berlanjut untuk menyelesaikan kewajiban dari kantor, selanjutnya berkumbul dengan kawan lama untuk saling sharing dengan mereka. Mengingat dulu ketika aku masih kuliah dan mengerjakan skripsi aku pun mengajak mereka untuk sharing tentang skripsi mereka sejauh mana sudah berjalan. Setidaknya kopi tidak jadi hal yang membuang waktu yang singkat di Malang untuk hal yang percuma saja.

Hari kedua, bapak bercerita tentang masa kecilku di desa yang akhirnya memunculkan ide untuk mengunjungi desa tempatku kecil dulu dan sedikit membeli durian khas di daerah tersebut untuk bernostalgia jaman dahulu masih tinggal di desa ini.  Desa Ngantang tepatnya di daearah sekitar bendungan air Selorejo Kabupaten Malang ini adalah desa dimana aku tumbuh hingga usia 6 tahun dengan sedikit cerita namun desa ini begitu asik untuk dikunjungi. Bersama Bapak, Bunda, si kecil Satrio, dan teman hidup saat ini Caca berjalan-jalan ke tetangga yang dulu kita hidup bersama. Durian pun kita dapat dengan merogoh kocek sangat minim dengan harga full diskon hehe. Aroma durian semerbak melingkupi di dalam mobil.

2015-04-11Perjalanan begitu enjoy kita jalani, penuh dengan rasa cinta dalam keluarga. Perjalanan pulang kami lalui dengan penuh kebahagian dengan berkumpulnya keluarga. Hujan tak lagi membuat kami risau diperjalanan. Sesampai di rumah durian dibelah bapak untuk disantap bersama seusai makan malam bersama. Suasana yang begitu aku rindukan dengan keluarga ini, dengan rasa durian penambah nikmatnya suasana, dan rasa penuh kasih sayang dalam keluarga. Begitu singkat, namun semua ini masih menyisakan senyum lebar ketika aku sudah harus bersiap kembali ke Jakarta dan kembali kehabitat kantor.

20150412_210112Hari ketiga, tersinya untuk bersiap keesokan hari untuk kembali ke Jakarta. Tersisa sedikit waktu aku gunakan untuk berkumpul kembali dengan kopi dan teman-teman gilaku itu. Canda tawa terus mengisi acara ngopi bersama kali ini. Tiada hentinya hingga waktu berlalu hingga tegah malam dan aku pun beranjak pulang ditemani Caca karena pagi harinya dia yang mengantar aku ke kandang kereta api.

Hari keempat, bangun dari tidur lelap, bersiap dengan tas carrier yang lagi-lagi menunggu punggung kecilku untuk menjadi tempat naungan. Sesampai di stasiun berpisah lagi dengan keluarga, durian, dan teman Jakarta menunggu dengan Monasnya.

Pulang kampung yang singkat, pulang kampung yang begitu indah untuk dikenang, pulang kampung yang membawa semangatku untuk kembali berkerja penuh dedikasi. Keluarga yang begitu berharga, meski hanya sejenak namun itu sangat berharga untuk bisa berkumpul. Cerita ini pun aku akhiri (udah gak ada ide). *LOL*

Thanks To: Allah SWT, Keluargaku (Bapak, Bunda, Mbak Gati, Mas Zul, Satrio, Caca), keluarga kecilku (Cece, Poreng, Paidi, Bijja), Teman-teman gila (Ayu, Dita, Catur), dan semua kolega yang lain.