King’s Tears

I had the courage and calm of a King
The most ferocious seas faced
His enemies could not see
Secrets of force against the pain,
and His eyes read beyond the sunrise

His words turned laws
Everyone wanted to be as it was
No one knew it was unfortunate

I wonder..
What was missing then?
Do not want to live
With this heartache
For even a king
Turns out not to have tears for his love

Knelt as a servant first
Saying already suffering too much, hi
Learn about the heavens and the forest he was not in vain
Without them, there would be peace
To believe

I wonder..
if it’s good or bad
Have a beautiful flower as well
With the bright blue sky and sea and to brighten eyes honey

Anyam Anyaman Nyaman

Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudhun gunung anjlog samudra
Gandheng rendhengan jejering rendheng
Reroncening kembang
Kembang temanten

Mantene wus dandan dadi dewa dewi
Dewaning asmara gya mudhun bumi

Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir
Mahargya dalan temanten
Dalanpun dewa dewi

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak,
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi

Membaca adalah Pertama

Mengulang kembali cerita tentang Rosul ketika menerima wahyu pertamanya ketika beliau diangkat menjadi Rosul terakhir. Wahyu pertama tidak juga menjadi surat pertama dalam Al-Qur’an dan tidak juga menjadi surat yang wajib dibaca ketika shalat.

Iqro’ adalah kata pertama yang muncul dari ayat pertama wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta. Benar, kata yang berarti “Bacalah” jelas memberi kita perintah untuk membaca. Pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita baca?” lalu “Bagaimana membacanya?”.

Bernostalgia dengan masa lalu, ketika bangku TPQ menjadi makanan sehari-hari, teringat seberapapun sibuknya dengan permainan yang seru mengaji menjadi kewajiban bagiku. Beranjak keusia lebih remaja kajian semakin mendalam dan filosofis, Abah (guru di TPQ) berpesan untuk selalu membaca. Dasar yang digunakan masih sama yaitu wahyu pertama yang turun dari Allah, ayat pertama yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Bacalah! dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Kembali pada pertanyaan pertama yang muncul “Apa yang harus kita baca?”, bapak saya menjawabnya dengan singkat “apapun yang kamu lihat”. Jawaban tersebut itu cukup menyimpulkan semuanya, dari apa yang kita lihat semua ada membacanya dengan baik akan menjadi sebuah ilmu baru untuk kita. pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana membacanya?”, dengan lugas dalam Al Qur’an menjawab “dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan”. Terang saja bahwa semua yang diciptakan di dunia ini untuk diperlajari dan untuk menjadi renungan bagi kita akan kuasa-Nya. Lihat lalu dalami itu dengan hati yang terbuka maka kita akan mendapat sesuatu yang amat penting untuk kita hidup hingga kita akan menjadi lebih baik.

“Membaca bukan saja tulisan dan literasi, membaca adalah pendalaman terhadap sesuatu yang kita temui”

Sudahkah Kita Benar-benar Pulang

Pulang, mungkin sudah sebuah kebiasaan yang kita lakukan. Pernahkah kita benar-benar pulang aatau hanya raga kita saja yang pulang?. Kebiasaan yang menjadi rutinitas wajar menjadikan pulang hanya sebuah wacana ditengah hiruk pikuknya kehidupan kita.

“Aku Ingin Pulang” adalah sebuah judul lagu yang diciptakan oleh Ebiet G. Ade yang sudah mewakili apa yang selama ini membuat kita benar-benar harus pulang. Kurun waktu yang cukup lama aku (ipong) tak pulang menjadi aku (Gunawan). Raga ini pulang tapi entah kemana jiwa ku ini pulang kemana. Aku entah menjadi Gunawan atau Ipong hanya ingin benar-benar pulang dengan keluargaku dan rumahku.

 Aku Ingin Pulang

Kemanapun aku pergi

Bayang bayangmu mengejar

Bersembunyi dimanapun

S’lalu engkau temukan

Aku merasa letih dan ingin sendiri

Ku tanya pada siapa

Tak ada yang menjawab

Sebab semua peristiwa

Hanya di rongga dada

Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut

Ku sadari langkah menyusuri pantai

Aku merasa mendengar suara

Menutupi jalan

Menghentikan petualangan

Kemanapun aku pergi

Selalu ku bawa bawa

Perasaan yang bersalah datang menghantuiku

Masih mungkinkah pintumu ku buka

Dengan kunci yang pernah kupatahkan

Lihatlah aku terkapar dan luka

Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang

Aku harus pulang

(Ebiet G Ade)

Terima kasih Bapak, Bunda, Mbak Gati, dan Mas Galih masih mengijinkan aku masuk rumah kita yang sudah lama aku tinggalkan. AKU PULANG…

Aerials

Life is a waterfall
we’re one in the river
and one again after the fall
swimming through the void
we hear the word
we lose ourselves
but we find it all….
cause we are the ones that want to play
always want to go
but you never want to stay
and we are the ones that want to choose
always want to play
but you never want to lose
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
life is a waterfall
we drink from the river
then we turn around and put up our walls
swimming through the void
we hear the word
we lose ourselves
but we find it all…
cause we are the ones that want to play
always want to go
but you never want to stay
and we are the ones that want to choose
always want to play
but you never want to lose
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
aerials, so up high
when you free your eyes eternal prize
aerials, in the sky
when you lose small mind
you free your life
aerials, so up high
when you free your eyes eternal prize

Ngobrol dengan Langit

sky

Aku: Hei,kamu yang di atas sana..!! (teriakku)

Langit: Aku yang kamu maksud??

Aku: Iyaa kamuu..!!

Langit: Ada apa gerangan berteriak kepadaku seperti itu?

Aku: Aku ingin bertanya kepadamu. Seberapa hebat kemampuan yang kamu miliki?

Langit: Aku tercipta untuk melindungimu dari sang surya yang begitu panas menerpamu.

Aku: Bumi ini sudah luas tapi kau masih mampu melingkupinya. Tempatmu juga lebih tinggi dari pada bumi ini.

Langit: Aku hanya melakukan apa kehendak-Nya. Aku terlihat tinggi hanya karena kau berada di bawah ku ibarat kau sedang berlindung di bawah atap rumahmu. Namun bagi sang surya kita sama saja.

Aku: Tapi kau hebat mampu menerpa panasnya sang surya.

Langit: Aku sama seperti dirimu yang tinggal di satu titik dimana ada aku melindungimu. Aku dilingkupi oleh langit diatasku lagi dan langit di atasku masih di lindungi langit yang lain lagi.

Aku: Ternyata sehebat dirimu yang kokoh diatas bumi masih ada yang lebih hebat lagi.

Langit: Aku bukanlah siapa-siapa, Aku hanya diciptakan oleh Nya, Aku memiliki kemampuan yang diberikan oleh-Nya kepadaku, dan semua ini akan hilang ketika kehendak Nya mengambil semuanya yang telah diciptakan dan dititipkan kepada kita.

“Ojo Dumeh” Sederhana Saja

Ojo dumeh, kata yang sering kali didengar dikehidupan sehari-hari, biasa digunakan dalam suatu candaan atau lawakan anak muda maupun orang tua, bahkan sekarang sudah menjadi bahasa gaul, oleh para kawula muda. Apa sebenarnya arti kata Ojo Dumeh ??
Walaupun kata Ojo dumeh biasa digunakan untuk candaan, namun kita mesti tahu apa itu arti kata ojo dumeh, agar kita paham apa yang kita bicarakan. Jadi, marilah kita simak apa sebenarnya arti ojo dumeh.
Ojo Dumeh, berasal dari bahasa jawa yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “jangan karena”. Namun jika diartikan kata perkata, Ojo berarti jangan, dan Dumeh berarti Sombong.  Jadi, Ojo Dumeh pada hakikatnya adalah suatu nasehat, yang mengatakan jangan sombong, selalu berbagi pada sesama dan saling mencintai satu sama lain. Hal ini mengisyaratkan kepada semua orang, agar tidak terlarut dengan apa yang dimiliki, sehingga dia pamer dan lupa diri, karena itu akan berakibat negatif pada orang tersebut dan lingkungannya.
Kata ojo dumeh dalam bahasa jawa memiliki makna yang luas, seperti kata-kata pepatah jawa berikut ini :
• Aja Dumeh Kuwasa, Tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada, artinya janganlah mentang –mentang menjadi penguasa, segala tingkahnya menjadi sombong dan congkak serta sewenang –wenang terhadap orang lain.
 • Aja dumeh pinter, tumindake keblinger, berarti jangan mentang –mentang diakui pintar kemudian kelakuannya menyimpang dan tidak bijaksana dari aturan yang ada. Karena orang pintar belum tentu mengetahui segalanya.
 • Aja dumeh kuat lan gagah, tumindake sarwa gegabah, artinya jangan mentang –mentang kuat dan gagah lalu tindakanya selalu gegabah dan semaunya.
 • Aja dumeh sugih, tumindake lali karo sing ringkih, berarti jangan mentang –mentang kaya lalu tingkah lakunya tidak peduli kepada yang lemah ekonominya.
• Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang, artinya jangan mentang-mentang dapat mengalahkan lawan lalu tindakanya sesukanya kepada lawan.
itulah beberapa arti kata “Ojo Dumeh”, semoga bisa bermanfaat dan menjadi literatur buat kita semua…

“Nrimo ing Pandum” tak Semudah Kedengarannya

Kalimat yang mungkin tak asing bagi orang jawa pada umumnya. Khususnya bagi orang jawa yang memegang erat budaya ketimurannya. Kalimat yang tersusun dari 3 kata tersebut begitu mudah kita ucapkan, kita dengar dan kita tulis. Namun tak cukup 3 langkah saja untuk dapat kita terapkan dalam kehidupan.

Nrimo ing Pandum” memiliki arti “menerima dengan pemberian” dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup. Pengaplikasian dalam kehidupan sosial “nrimo ing pandum” bisa berarti bermurah hati dengan sesama, dalam ekonomi dapat pula dikatakan sebagai rasa cukup dengan kekayaan yang dimiliki, dan masih bisa lebih luas lagi “nrimo ing pandum” dapat diaplikasikan.

Nrimo yang berarti menerima dengan segala sesuatu pemberian baik dari sesama manusia ataupun dari Yang Maha Kuasa, baik berupa hal baik maupun hal buruk, bahkan kurang ataupun lebih. Bagi sesepuh jaman dulu mungkin seperti kakek/nenek kita atau buyut-buyut kita “nrimo ing pandum” digunakan sebagai notice dalam menjalani ujian kehidupan. Mungkin banyak dari kita berpikir bahwa ujian hidup itu hal yang menyedihkan, menyusahkan, bikin bete kata anak muda jaman sekarang. Perlu kita ingat bahwa ujian bisa saja berupa kelebihan yang kita miliki. Kelebihan yang kita miliki atau kita terima tersebut dalam kajian nrimo memesankan kepada kita agar selalu bersyukur dan berendah hati dengan apa yang sudah kita miliki. Sebaliknya dalam kekurangan yang kita hadapi nrimo mengajarkan kita agar selalu bersabar dan tabah dalam kekurangan maupun kesulitan yang ada.

Apakah itu masih mudah seperti yang kita dengar???

Pelajaran bagi kita yang masih berharap memiliki hidup lebih baik lagi. Nrimo ing pandum mengajarkan kita “Ojo Dumeh” (akan dibahas nanti di pertemuan lain waktu) yang berarti “jangan mentang-mentang”.

“Ojo dumeh sugih lali mlarat e”

“Ojo dumeh sehat lali lara ne”

“Ojo dumeh enom lali tuo ne”

“Ojo dumeh seneng lali susah e”

Ojo dumeh urip lali mati ne”

Dari 1 kalimat sederhana memunculkan 5 kalimat berikutnya yang mungkin lebih akrab disebut “5 sebelum 5”. Marilah terus belajar, terus mawas diri, dan saling mengingatkan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi, belajar dari semua yang kita hadapi, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat…

Jangan lupa ingatkan saya jika ada salah kata yang tertulis.

Terima Kasih sudah mau belajar bersama dengan saya.

Posting Pertama

Terinspirasi dari dunia balap yang penuh tantangan.

knjrnsr9a

Banyak orang tua kita berkata “hidup itu di jalani dengan hati-hati agar mencapai hasil terbaik” dan sebagian orang berkata “hati-hati kalau jalan, pelan-pelan saja biar selamat sampai tujuan”. Mungkin banyak orang tua menyadari akan hal itu karena mereka yang sudah mengenyam kehidupan lebih dahulu dibanding kita yang masih ingusan. Patutlah kita bercermin diri dengan kata-kata yang teruntai dari bibir seseorang yang lebih tua dari usia kita yang tentunya dalam hal positif.
Namun bukan bermaksud menggurui atau malah sok tua, sekedar penilaian yang berbeda saja tentang wejangan dari kebanyakan orang tua dan berbagi pengalaman hidup saya pribadi siapa tahu bisa bermanfaat, amiiiin. Saya memiliki pendapat bahwa “hidup itu seperti dunia balap, lebih cepat lebih baik” dan bersambung dengan “namun kita masih perlu untuk berhati-hati dalam melakoni balap itu”. Mungkin ini efek dari hobby saya yang doyan dengan dunia balap. Maklum anak muda yang masih suka dengan hura-hura yang terkadang sama sekali gak berguna untuk masa depan kita masing-masing hehehehe.
Yang namanya balap pasti diawali dengan kualifikasi untuk mendapat tempat start atau memulai balapan di tempat yang terdepan (terbaik) dengan begitu kita lebih mudah melakoni balap, begitu pula dengan kehidupan kita yang berkaitan dengan masa muda kita. Bagaimana kalau kita tidak mempersiapkan kualifikasi (masa muda) dengan baik??. Tentu saja kita akan kita lebih susah untuk melakoni balap (masa tua atau bisa dikatakan kehidupan yang lebih serius) yang berjalan sekian kali putaran. Berlanjut pada mulainya balap hingga finish (mati) dengan begitu banyak pesaing dan kendala-kendala yang akan kita hadapi tak lupa juga berbagai macam tikungan (cobaan atau ujian hidup) yang akan kita libas.
Saya start pada posisi yang kurang bisa menguntungkan bagi saya, itupun bukan karena kesalahan settingan motor (latar belakang keluarga) ataupun yang lain-lain namun disebabkan saya melakoni kualifikasi kurang baik dengan berulang kali kesalahan yang saya lakukan. Hingga saatnya saya harus tetap melakoni balap untuk bersaing mendapat tempat terbaik di garis akhir. Begitu start saya berpikir untuk geber lebih cepat untuk dapat melewati sekian banyak pesaing di depan saya tentu dengan harapan finisih terbaik. Belum berjalan jauh saya sudah harus dihadapkan dengan tikungan tajam (masalah) atau yang biasanya dikenal dengan hair pin corner. Saya pun harus berhati-hati melaluinya agar tikungan (masalah) tersebut bisa saya lalui dengan baik tanpa saya harus terjatuh atau malah dimanfaatkan pesaing (orang lain) untuk mendahului saya. Keluar dari tikungan terhampar panjang jalan lurus yang membuat saya mampu memperbaiki posisi (dalam kehidupan) tanpa halangan,tanpa rintangan,dan mulus-mulus saja. Terbuai dengan kenikmatan trek lurus saya pun lengah. Beberapa pesaing kembali mendahului dan mengambil alih posisi saya. Rasa frustai dan emosi pun meluap hingga kembali tikungan saya hadapi membuat saya ceroboh untuk melaluinya. Hampir saja terjatuh dan tidak akan mendapatkan hasil apa-apa saat itu. Beruntung karena support motor (keluarga), mekanik (teman),dan pit crew (saudara) yang maksimal membuat saya terus dan terus memacu hingga nantinya saya dapatkan posisi terbaik di garis finish.
Seperti itulah kehidupan dalam pandangan saya. Kualifikasi, motor, mekanik, dan pit crew sangat berpengaruh dalam kita memacu kehidupan (faktor intern). Faktor ekstern pun seperti tikungan tajam, trek lurus, kompetitor, dan cuaca (lingkungan) yang juga bisa menjatuhkan kita kapan pun jika kita ceroboh atau lengah melaluinya. Kita masih muda perlu mempersiapkan diri (kualifikasi) dengan baik agar dapat memulai kehidupan yang sebenarnya (start balap) dengan mudah pula. Hingga saat kita menjalani kehidupan (balap) dengan mudah pula. Dengan begitu saat tikungan (masalah) datang, kita siap dan mampu melaluinya dengan mudah. Dan pada putaran akhir (masa tua) kita tinggal menikmatinya dan jauh lebih mudah lagi hingga finish (mati) di podium utama (surga).

Thank’s to:
Allah SWT, bapak (Budiono), bunda (Windarti), mb. Gati, ms. Galih, “cewek gue” (mbuh sopo), Alm. Harris Noviar, Alm. Risma, Alm. Cipoet, semua saudara dan teman-teman.
Dari saya terima kasih buat yang mau baca moga bisa jadi masukan yang baik. Buat yang gak baca moga ada yang mau ceritain. Hehehhe. Bila ada kata yang kurang tepat atau ada kesalahan mohon diingatkan dan dimaafkan.
Salam “Uyee…!”